Jumat, 26 November 2010

"Makanan Enak Asia Tenggara Di Beijing".

"Makanan Enak Asia Tenggara Di Beijing". Dalam acara hari ini marilah kita mencicipi masakan asli Malaysia di Kafe Peranakan Beijing.

Kafe Peranakan berlantai dua, dekorasinya kental bernuansa Malaysia. Ukiran di jendela kayu dan langkan serta karya seni di dinding membawa kita ke negara tropis yang majemuk itu. Semua benda penghias kafe ini dipilih sendiri oleh suami-istri pemilik restoran dan khusus didatangkan dari Malaysia khusus untuk mendemonstrasikan budaya dan kesenian Malaysia kepada masyarakat di Beijing.

Duduk di samping jendela lantai kedua kafe itu, kami melihat ke sekeliling, tampak bahan dekorasi terutama dari kayu, terdapat sofa dan kursi kayu, sangat cocok untuk mengobrol dengan santai. Anda pasti akan bertanya, mengapa kafe ini dinamakan "Peranakan"? Ternyata kita dapat menemukan jawabannya dari daftar menu. Di Malaysia, keturunan hasil perkawinan warga Tionghoa dan Melayu disebut peranakan, yang laki-laki disebut "Baba", dan yang perempuan disebut "Nyonya", sedang masakan mereka diberi nama "masakan nyonya". Dalam budaya makan Malaysia yang beraneka ragam, masakan nyonya boleh dikata sangat terkenal. Masakan itu merupakan perpaduan sempurna kuliner Tiongkok dengan rempah-rempah Malaysia, mengkombinasikan berbagai cita rasa seperti manis, asam, pedas dan harum, maka sangat disukai oleh para pamakan enak.

Suami-istri pemilik "Kafe Peranakan" adalah warga Tionghoa dari Malaysia yang sangat ramah, dan tahu betul tentang masakan nyonya. Melihat wartawan sangat berminat terhadap kafenya, mereka lalu bercerita tentang hidangan di kampong halamannya. Pemilik kafe ini Koh King Kee mengatakan,

"Malaysia adalah negara yang berpenduduk multi etnis, antara lain Melayu, India dan Tionghoa. Maka masakan Malaysia sangat beraneka regam dengan menyerap sari pati masakan berbagai etnis, enak sekali cita rasanya. Di kafe kami ada masakan Malaysia yang terkenal, seperti sate, rendang dan nasi lemah. Ada pula teh tarik dari India. Juga Klang Bakuteh dari masyarakat Tionghoa. Hidangan-hidangan itu cukup menyeluruh mencerminkan masakan yang populer di Malaysia."

Masakan Malaysia banyak menggunakan santan dan kari sebagai bumbu, cita rasanya sangat tebal dan warnanya cerah. Kari adalah semacam bumbu yang sudah tidak asing bagi kita semua, tapi cara pemakaiannya berbeda dengan masakan Asia Tenggara lain, kari Malaysia menggunakan santan untuk mengurangi rasa pedas dan menambah rasa harum, maka cita rasanya relatif moderat, selain itu ditambah pula beberapa macam bumbu lain sehingga kari yang pedas juga terasa segar. Malaysia disebut Negara Rempah-Rempah, maka boleh dikata rempah-rempah tidak bisa kurang untuk membuat masakan Malaysia yang asli. Koh King Kee mengatakan,

"Kami sedapatnya membeli semua bahan dari Malaysia. Sejumlah bahan seperti serai dan pandan, meski bisa diperoleh di Tiongkok, tapi mutunya kurang bagus, maka umumnya kami mendatangkannya dari Thailand. Sejumlah bahan yang tidak bisa dibeli di Beijing, kami membelinya dari Kota Guangzhou atau dari Hong Kong."

Di Kafe Peranakan, kalau anda memesan teh tarik, seorang juru masak India yang pernah bekerja di Malaysia selama bertahun-tahun akan datang ke meja anda untuk membuatnya secara langsung. Keterampilan mereka sering mengundang decak kagum para tamu. Koh King Kee mengatakan, juru masak itu adalah yang paling bagus di Beijing prihal membuat teh tarik dan roti canai atau martabak. Berbeda dengan restoran Asia Tenggara lain di Beijing, selain juru masak India itu, juru masak yang lain semuanya adalah warga Tiongkok. Mereka semua bisa membuat hidangan Malaysia yang asli cita rasanya. Semua itu adalah hasil kerja Ibu Koh. Ibu Koh mengatakan,

"Tentang juru masak, kalau semua didatangkan dari Malaysia akan lebih mudah, tapi ditinjau dari segi jangka panajng, akan lebih banyak membantu baik bagi kami maupun bagi Tiongkok kalau mereka dilatih membuat masakan Malaysia.."

Ketika mengajari juru masak lokal itu, Ibu Koh akan memberitahukan mereka resep dan takaran bumbu-bumbunya, lalu mendemonstrasikan sendiri cara pembuatannya. Melalui praktek selama beberapa tahun, juru masak lokal sudah dapat membuat makanan Malaysia yang asli. Kafe Peranakan juga mempunyai reputasi yang baik di kalangan tamu-tamunya, bahkan sejumlah pelanggan ulang. Nona Yao dari Shanghai sangat gemar masakan Malaysia di kafe ini, setiap kali mengadakan perjalanan dinas ke Beijing, dia pasti makan di kafe ini bersama teman-temannya. Ia mengatakan,

"Saya pernah mengadakan perjalanan dinas ke Singapura, maka setiap kali melihat ada restoran Singapura, segera saya teringat pengalaman itu. Asal restoran itu menghidangkan masakan yang asli cita rasanya, saya selalu terdorong untuk mencobanya. Teman saya tidak mempunyai pengalaman seperti saya. Tapi setelah saya perkenalkan dan mencobanya, kebanyakan dari mereka menyukai hidangannya. Saya yakin mereka juga pasti akan membawa teman-temannya makan sini. Asal masakannya enak, tak perlu khawatir akan sepi tamu."

Menurut Koh King Kee, sasaran tamu restoran ini terutama adalah penduduk lokal, tetapi sejauh ini ternyata sudah dikunjungi tamu-tamu dari 60 negara lebih. Banyak perusahaan besar yang terkenal di dunia, seperti General Electric dan Maskapi Penerbangan Prancis sering makan makan di restoran ini. Sulit dibayangkan, orang Rusia ternyata gemar Klang Bakuteh dan orang Ceko suka makan mi goreng Hokian. Hal-hal yang sulit dibayangkan di Malaysia itu terjadi di Beijing.

Koh King Kee mengatakan, melihat tamu-tamu gemar masakan Malaysia, merupakan semacam dorongan baginya, dan ini sesuai dengan maksud awal ketika ia membuka restoran ini di Beijing pada tahun 2004. Dengan menyelenggarakan kafe ini selama bertahun-tahun, dia telah menyimpulkan pengalaman dalam menjalankan usaha. Dikatakannya,

"Setelah pensiun pada akhir tahun 2004, saya terdorong untuk membuka sebuah restoran masakan Malaysia di Beijing, sebagai platform untuk berkenalan dengan teman-teman, sekaligus mendorong pertukaran budaya antara Tiongkok dan Malaysia. Saya ingin menyelenggarakan kafe ini menjadi restoran 4 baik, yaitu hidangannya baik, layanannya baik, lingkungannya baik dan citranya baik. Menyelenggarakan restoran adalah sebuah usaha yang membutuhkan hati nurani, kita harus menyediakan makanan yang sehat kepada tamu."

Kafe Peranakan ini mendapat gelar restoran tiga bintang dari Biro Pariwisata Kota Beijing. Bulan Mei tahun depan, Koh King Kee akan membuka sebuah kafe lagi di Shunyi, pingkiran kota Beijing untuk memenuhi kebutuhan komsumen segmen tinggi di kompleks vila daerah itu. Selain itu, ia berencana membuka sebuah toko kudapan manis Malaysia yang khusus menjual Bubor Chacha, es serut Malaysia dan lain-lain.

Dikatakan oleh Koh King Kee, tahun lalu, pemerintah Malaysia mempromosikan sebuah program yang diberi nama "Malaysian Kitchen", untuk memperkenalkan masakan Malaysia kepada dunia. Sementara itu, pemerintah berbagai negara bagian juga mempromosikan pariwisata masing-masing kepada dunia. Kini, semakin banyak restoran Malaysia dibuka di Beijing. Seperti halnya Kafe Peranakan, restoran-restoran itu pasti akan disambut baik penduduk di Beijing, dengan demikian, penduduk Beijing akan dapat menikmati hidangan bercita rasa Asia Tenggara tanpa harus mengunjungi negeri-negeri tersebut.

Saudara pendengar, kalau anda ingin mencicipi masakan Malaysia di restoran ini? Alamatnya adalah: Nomor 17 Pusat Internasional Kuntai Distrik Chaoyang Kota Beijing.


* indonesian.cri
Lihat juga : loewy, table8, tamani

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar